Lebah. ARTIKEL MADU UNTUK MAJALAH TRUBUS: Pelawan Tristania Mainganyi Madu Lengkeng Madu Dadap

Madu Bina Apiari: PERINTIS PERLEBAHAN DI INDONESIA

ARTIKEL MADU UNTUK MAJALAH TRUBUS

BY Vilian • July 21st , 2015 • Lebah

HomeLebahARTIKEL MADU UNTUK MAJALAH TRUBUS

PENGANTAR: Awal Mei 2011 saya meliput panen madu pelawan di hutan Bangka, Provinsi Bangka Belitung, yang rencananya akan dipublikasikan di Majalah Trubus edisi Juni 2011. Para “peternak” menerobos hutan, mencari lokasi yang tepat (antara lain daerah itu agak terang dibanding area di sekitarnya), dan memasang sunggau. Sunggau mirip gawang di lapangan sepak bola, hanya saja bagian horizontal agak miring. Di bagian itulah, lebah hutan Apis dorsata bersarang. Pemasangan sunggau 2—3 bulan sebelum musim bunga tiba. “Peternak” itu akan memanen madu, yang jumlahnya bervariasi, maksimal 11 kg per sarang.

1.Berapa jumlah koloni lebah yang Bapak budidayakan saat ini?
Bina Apiary Indonesia pernah mengelola 1000 koloni, tetapi overhead costnya terlalu tinggi, yakni untuk pindah2/migrasi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dan Jawa Barat, untuk beli gula pada saat paceklik tidak ada madu (musim hujan), untuk bayar peternak, sumbangan dan pungutan desa , keamanan dll, sehinga sekarang mengelola ternak inti 130 kotak (satu truk) sebagai peternakan INTI dengan membina plasma para peternak lain dan menampung hasil panen madu dengan pengawasan kwalita madu di lapangan waktu panen.

2.Apa jenis lebah yang Bapak budidayakan? Apis cerana, Apis mellifera?
Secara komersial Apis mellifera lebih menguntungkan karena produksi tinggi (30 kg/koloni/tahun) ; dapat menghasilkan bee pollen, royal jelly dan propolis. Sedang Apis cerana hanya penghasil madu dalam jumlah kecil ( 5 kg/koloni/tahun).

3.Berapa jumlah madu yang Bapak produksi per tahun dari total koloni itu?
Dari lebah kita sendiri sekitar 130x30 kg = 3900 kg dan dari peternak binaan/plasma sekitar 10 ton. Dari peternak lain dan madu hutan dapat mencapai 100 ton

4.Apakah pernah ada riset yang membandingkan antara madu dari lebah hutan dan madu hasil budidaya? Bagaimana hasilnya?
Belum pernah ada research di Indonesia yang membandingkan antara madu hutan dan madu hasil budidaya. Sedang madu budidaya juga ada banyak jenisnya al madu kapok randu, madu karet, madu lengkeng, madu kopi, madu rambutan, madu durian, madu sonokeling, madu jambu mete, madu mangga, madu duwet, madu multiflora, madu dadap, madu alpokat, madu kesambi, dll Tidak ada institusi di Indonesia yang punya dana dan tenaga untuk meneliti masing2 kandungan dan manfaat tiap jenis madu

5.Jika belum, menurut Bapak, adakah perbedaan mutu dan efikasi (khasiat) antara madu hasil budidaya dan madu hutan?
Mutu madu tergantung dari jenis tanaman dan keasliannya serta kadar air waktu panen. Madu budidaya rasa, warna, bau, mudah dibedakan karena lebih homogen, sedang madu hutan karena tidak dapat di identifikasi asal bunga tanaman (bercampur di huatn) agak susah mengenali bau, rasa, dan warnanya , kecuali yang jelas asalnya seperti madu Acacia mangium, pelawan . Kita sementara membedakan warnanya gelap, agak gelap dan kuning . Madu hutan sudah di sertifikasi JMHI (jarinagan Madu Hutan Indonesia) sebagai madu Organik oleh BIOCERT di Bogor. Dan telah di presentasikan di Kongres APIMONDIA (World Beekeepers Association) di Montpellier Perancis tahun 2009.

6.Saya memperhatikan sarang-sarang lebah di hutan. Pada umumnya serangga sosial itu membuat sarang di cabang primer yang posisinya miring 15 derajat. Mengapa?
Saya belum pernah meneliti atau memperoleh hasil penelitian ttg hal tsb. Akan saya tanyakan kepada pakar Biology atau Entomology. Tunngu jawaban menyusul

7.Di Bangka, sunggau yang dipasang di dalam hutan kadang-kadang tak dihuni lebah jika anatara lain di sekitar sunggau itu terdapat bangkai dengan bau menyengat. Mengapa lebah enggan bersarang di area yang terdapat bangkai?
Sebab ilmiah saya belum tahu. Tetapi lebah adalah machluk Tuhan yang selalu mengunjungi tempat bersih dan bau bangkai mengganggu indera lebah yang bersih. Lebah hanya terbang dari sarang mencari nectar, pollen, propolis dan air tidak pernah mampir2 ketempat yang kotor.

8.Apakah lebah-lebah cenderung mengumpulkan nektar dari satu jenis bunga atau dari beragam bunga?
Lebah mengumpul nectar berdasar kadar gulanya. Semakin rendah dan kadar airnya tinggi semakin kurang atau tidak dikunjungi. Jadi kalau ada sat jenis Bungan yang tinggi kadar gulanya akan di habiskan dulu baru mengunjungi jenis yang lain.

9.Madu pelawan (konon berasal dari nektar bunga pohon pelawan Tristania mainganyi) rasanya agak pahit. Mengapa madu pelawan pahit?
Nektar bunga pelawan rasanya pahit, sehingga madunya juga pahit.

10.Secara umum keberlangsungan hidup lebah sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan hidup. Di Bangka penambangan timah sangat marak. Apakah hal itu mengancam kelangsungan hidup lebah? Mengapa?
Tambang di Bangka menghabisi tanaman penghasil nectar. Semakin luas tambang semakin sempit areal penghasil nectar dan otomatis semakin kecil produksi madu. Dalam rangka REKLAMASI tambang batubara di PT Antang gunung Meratus Kalsel dan PT BDMS Malinau Kaltim, saya kembangkan sorghum (bunga banyak polennya) dan tanaman Acacia mangium dan Kaliandra (penghasil madu), Disamping itu daun sorghum baik untuk makanan sapi/domba dan batangnya diperas untuk BIO ETANOL , biji/buahnya untuk pengganti gandum atau beras untuk manusia. Jadi pasca tambang batubara akan terbentuk lingkungan baru yang lebih tinggi nilai ekologis dan ekonomisnya. Masyarakat local tidak hanya menderita karena ditinggali banjir, sungai kotor, dan tanah gersang, sedang kekayaan tambangnya dinikmati orang luar /investor.

Share your Opinions

Terhubung Dengan Kami

Copyright © 2010 - 2017 Madu Bina Apiari. All Rights Reserved. Designated trademarks and brands are the property of their respective owners. Use of this Web site constitutes acceptance of Madu Bina Apiari User Agreement and Privacy Policy.

top