Habitat asli Apis mellifera ada di Eropa. Tubuhnya lebih besar daripada Apis cerana dan jinak, sehingga lebih mudah dibudidayakan. Bentuk sarangnya pun lebih besar dengan jumlah koloni yang lebih banyak. Apis mellifera dibudidayakan menggunakan kotak-kotak kayu dan dipindah-pindahkan menurut musim berbunga tanaman sumber pakannya.

Budidaya lebah ini secara ekonomis lebih menguntungkan, karena madu yang dihasilkan lebih banyak daripada Apis cerana. Selain itu, dari lebah ini peternak juga bisa memanen bee pollen, royal jelly dan propolis. Meskipun demikian, Apis mellifera rentan terserang hama, terutama ketika koloni kekurangan pakan.

Budidaya Apis mellifera di Indonesia dimulai sejak sekitar tahun 1974, ketika pemerintah Australia memberi hadiah 20 kotak koloni lebah Apis mellifera kepada Presiden Soeharto. Presiden kemudian menyerahkan perawatan koloni lebah tersebut kepada Gerakan Pramuka Indonesia untuk dikembangkan.

Owner Peternakan Lebah Madu Bina Apiari, Ir. H. Bambang Soekartiko, juga merupakan salah satu perintis dan pembina peternak lebah Apis Mellifera di Indonesia. Beliau merintis perlebahan ketika bertugas sebagai Kepala Administratur Perhutani di Telawa, Jawa Tengah pada tahun 1973-1975, dengan misi meningkatkan kesejahteraan warga desa sekitar hutan untuk menurunkan angka pencurian hasil hutan oleh warga desa.

Hingga saat ini peternakan lebah Apis mellifera lebih berkembang di Pulau Jawa, dengan tanaman Kapuk Randu, Karet, Rambutan, Kopi, Sonokeling, Lengkeng dan Kaliandra sebagai sumber pakannya. Demikian juga dengan Peternakan Lebah Madu Bina Apiari sehingga hasilnya adalah madu murni dengan rasa tumbuhan tersebut.